Anak Jalanan & HIV

Di era yang serba digital ini, bermunculan banyak kegiatan dan komunitas sosial. Thanks to social media, kita jadi lebih mudah terhubung dengan orang lain yang sama sekali ga kita kenal tapi punya kepedulian yang sama. Nah, dari sekian banyak komunitas dan kegiatan sosial yang bermunculan, ada banyak banget yang sasarannya anak karena anak dianggap sebagai so called masa depan bangsa, makanya perlu diurusin. Termasuk juga anak jalanan yang dianggap bukan hanya “bermasalah” karena statusnya sebagai masa depan bangsa tapi juga kerentanannya atas semua masalah sosial dan kesehatan, termasuk juga untuk terpapar HIV. Tulisan kali ini akan bahas seputar anak jalanan dan kedekatan mereka dengan HIV. Check this out!

Siapa sih anak jalanan itu?

Banyak istilah yang ditunjukan kepada anak jalanan seperti anak pasar, anak tukang semir, anak lampu merah, peminta-minta, anak gelandangan, anak pengamen dan sebagainya. Menurut Lusk (1989, 57-58), yang dimaksud anak jalanan adalah “…any girl or boy…for whom the street (in the widest sense of the word, including unoccupied dwellings, wasteland, etc.) has become his or her habitual abode and/or source of livelihood; and who is inadequately protected, supervised, or directed by responsible adults. […setiap anak perempuan atau laki-laki…yang memanfaatkan jalanan (dalam pandangan yang luas ditulis, meliputi tidak punya tempat tinggal, tinggal di tanah kosong dan lain sebagainya) menjadi tempat tinggal sementara dan atau sumber kehidupan; dan tidak dilindungi, diawasi atau diatur oleh orang dewasa yang bertanggung jawab]

Menurut definisi anak jalanan yang disusun peserta lokakarya nasional anak jalanan DEPSOS pada Oktober 1995, yang dimaksud anak jalanan adalah anak yang sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya. Usia anak jalanan berkisar antara 6 sampai dengan 18 tahun. Rentang usia ini dianggap rawan karena mereka dianggap belum mampu berdiri sendiri, labil mudah terpengaruh dan belum mempunyai bekal pengetahuan dan ketrampilan yang cukup. Di jalanan memang ada anak usia 5 tahun ke bawah, tetapi mereka biasanya dibawa orang tua atau disewakan untuk mengemis. Pola yang terjadi biasanya saat memasuki usia 6 tahun biasanya dilepas atau mengikuti temannya. Anak-anak yang berusia 18 sampai dengan 21 tahun dianggap sudah mampu bekerja atau mengontrak rumah sendiri bersama teman-temannya.

Anak jalanan dikelompokkan menjadi 3 tipologi yaitu anak yang mempunyai resiko tinggi (children at high risk), anak yang bekerja di jalan untuk membantu keluarganya (children on the street) dan anak yang hidup kesehariannya di jalan (children of the street). Ketiga tipologi anak jalanan tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda sehingga model penanganannya juga berbeda.

Seberapa banyak anak jalanan di Indonesia?

Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial mengidentifikasi masih ada 16.290 anak jalanan di seluruh Indonesia. Hasil pemetaan hingga Agustus 2017 lalu memperlihatkan masih ada 16.290 anak jalanan yang tersebar di 21 provinsi. Data itu memperlihatkan jumlah anak jalanan terbanyak tercatat di enam provinsi yang ada di Pulau Jawa. Jumlah anak jalanan di Provinsi Jawa Barat menjadi yang tertinggi sebanyak 2.953 anak, diikuti DKI Jakarta yang mencapai 2.750 anak, lalu Jawa Timur 2.701 anak, serta Jawa Tengah sebanyak 1.477 anak. Di Provinsi Banten tercatat ada 556 anak, sementara di Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 503 anak.

Apa bedanya anak jalanan dengan anak lainnya?

Seperti yang sudah disebutkan sedikit di awal tulisan, semua anak dianggap perlu mendapatkan perhatian karena statusnya sebagai masa depan bangsa. Sementara anak jalanan, dianggap membutuhkan perhatian lebih karena kerentanannya pada banyak masalah sosial. What actually the problems are?

(Sexual) violence

Hidup di jalanan membuat anak jalanan rentan mengalami berbagai jenis kekerasan, ga cuma fisik, tapi juga seksual. Pelakunya bisa dari bermacam orang, mulai dari petugas keamanan yang patroli “membersihkan” jalan, preman setempat atau sesama anak jalanan. Tidak jarang mereka dipaksa melakukan aktivitas seksual demi alasan keamanan. Sementara itu, kekerasan seksual adalah salah satu peluang pemaparan HIV karena adanya hubungan seksual berisiko. Saat mengalami kekerasan seksual, udah pasti lah korban ga punya bargaining position, boro-boro bisa minta pasangan menggunakan kontrasepsi, pelaku bahkan ga peduli kalau korbannya kesakitan dalam prosesnya.

Rentan atas KTD dan pemaparan HIV pada anak yang dikandung

Anak jalanan laki-laki maupun perempuan sama-sama berpeluang mengalami kekerasan seksual, tapi efeknya lebih banyak saat terjadi pada anak jalanan perempuan. Bukan hanya ia mengalami kekerasan, rentan terpapar HIV ataupun penyakit menular seksual lainnya, dia berpeluang mengalami kehamilan tidak direncanakan. Nah, situasinya akan jadi lebih pelik lagi kalau anak jalanan hamil. Buat mereka yang ga pengen punya anak, mereka cenderung akan coba mengaborsi dengan cara nonmedis karena keterbatasan uang. Upaya aborsi ini bakalan ngasih dampak lagi ke mereka, apalagi karena nonmedis, sangat mungkin semua peralatan yang dipakai ga higienis. Nambah lagi lah peluang untuk terpapar penyakit.

Rentan atas penggunaan jarum suntik bekas pakai bergantian baik dalam konsumsi narkotika maupun dalam pembuatan tato

Selain karena kekerasan (seksual), anak jalanan juga rentan terpapar HIV karena gaya hidupnya yang berbasis solidaritas sesama anak jalanan. Hang out yang biasa dilakukan seringkali diikuti juga dengan penggunaan narkoba maupun pembuatan tato atas dasar kebersamaan. Again, due to lack of money, anak jalanan sering pakai jarum suntik bergantian yang of course sama sekali ga steril dan jadi cara efektif pemaparan HIV.

Dengan sebanyak itu kerentanan yang dimiliki anak jalanan, mereka sampai sekarang belum juga mendapat perhatian khusus dalam upaya penanganan HIV. What do you think guys? Yuk share pendapatmu!

 

Oleh: NQ