Chemsex Membuatku Rileks, Tapi…

 

Stéphane, seorang aktivis chemsex Perancis, menjadi panitia untuk Forum ChemSex Eropa ke-3 di Paris pada tahun 2019. Ketika dia menjelaskan mengapa dia terus menggunakan chemsex (chemical sex, bahan kimia yang digunakan untuk berhubungan seks) saat melakukan kegiatan seksual, ia menyatakan bahwa memiliki kesenangan itu sangat penting; ada pula rasa takut kalau ia tidak bisa melakukan hubungan seksual tanpanya.

Sobat, dalam relasi seksual di mana lelaki berhubungan seks dengan lelaki lain (LSL), tak dipungkiri kelompok LSL seringkali mengalami kesepian dan mendapat stigma yang menyakitkan. "Chemsex membuat saya untuk sejenak bisa menikmati seks dan melupakan bagaimana orang lain memandang saya dan komentar menyakitkan mereka," dalih Stéphane. Walau tak sedikit pasangan heteroseksual yang juga menggunakan chemsex.

Sejatinya keterlibatan kebanyakan LSL dengan chemsex dimulai untuk mencari kesenangan. Jan Großer, seorang psikiater dan aktivis yang berbasis di Berlin, Jerman, mendefinisikan kesenangan sebagai mekanisme umpan balik positif yang memotivasi kita untuk mengulangi suatu tindakan. Selain penghargaan intrinsik dari kenikmatan seksual (fisik) itu sendiri, seks juga dapat memperkuat ikatan hubungan dengan pasangan termasuk kepemilikan dan identitas.

Sementara, Elise Nelis, seorang psikiater dan seksolog di GGZ inGest di Amsterdam, Belanda, menggambarkan salah satu pasiennya yang dibesarkan di sebuah kota kecil oleh orang tua yang religius yang jarang mengungkapkan emosi atau perasaan mereka. Mereka umumnya bersifat negatif tentang seksualitas dan tidak mengaku pasiennya sebagai LSL sampai ia berusia 28 tahun.

Ketika pasen tersebut diagnosis dengan positif HIV, ia menyalahkan dirinya sendiri, membenci diri sendiri dan ketatakutan yang mengakibatkan depresi, libido rendah dan disfungsi ereksi. Dia mengatakan bahwa dengan menggunakan chemsex akhirnya memberinya kepercayaan seksual dan kebahagiaan namun itu tidak menyelesaikan masalah mendasarnya tentang stigmatisasi diri, harga diri yang rendah dan rasa kesepian.

Adam Schultz, seorang aktivis dan veteran chemsex yang berbasis di London, Inggris, mengatakan bahwa layanan perlu fokus pada masalah spesifik setiap orang. "Chemsex tidak pernah sekadar tentang seks atau bahan kimia, ini tentang orang yang mencoba melarikan diri dari masalah mereka," katanya.

Monty Moncrieff dari London Friend mengatakan bahwa aspek penting yang ditawarkan organisasinya adalah mendorong LSL untuk menjadi intim secara emosional dan jujur satu sama lain. Hal ini terkadang menjadi pengalaman baru bagi lelaki yang interaksi sebelumnya dengan lelaki lainnya sebagian besar bersifat seksual.

Dr Alexandre Aslan, seorang dokter medis dan seksolog yang berfokus pada isu-isu chemsex di Rumah Sakit St Louis di Paris, Perancis, mengatakan bahwa sama seperti HIV telah mengubah seksualitas LSL pada hari-hari awal epidemi, chemsex pun demikian.

Dia menjelaskan bagaimana chemsex dapat mengganggu siklus respons seksual yang biasa. Narkoba dan pornografi dapat berarti bahwa seorang lelaki telah melewati fase pertama yaitu hasrat (pikiran dan minat seksual) dan langsung menuju fase kedua, gairah fisik. Namun, obat-obatan seringkali dapat menimbulkan masalah khusus dengan fungsi ereksi – pada fase gairah – dan membuat orgasme sulit dicapai, menghasilkan fase 'dataran tinggi' yang tidak pernah berakhir. Banyak LSL juga merasa sulit untuk kembali berhubungan seks tanpa chemsex.

Sobat, jika kamu selama ini tidak bisa melakukan hubungan seksual tanpa chemsex, ini berarti kamu sudah kecanduan dan kamu harus segera berkonsultansi dengan ahli bagaimana mengatasi kecanduan tersebut. Juga, penggunaan chemsex yang tidak terkontrol bisa menyebabkan kamu terlibat dalam hubungan seksual berisiko yang membuat kamu rentan terinfeksi HIV dan infeksi menular seksual lainnya.

Jangan lupa, selama kamu aktif secara seksual, selama itu pula kamu harus melaukan tes IMS dan HIV dengan mengunjungi tautan myupdatestat.us/bookmytest

Sumber: https://www.aidsmap.com