HARI AIDS SEDUNIA 2017

Dalam memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh setiap tanggal 1 Desember setiap tahunnya, berbagai organisasi masyarakat yang tergabung dalam Forum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Peduli AIDS (CISMA, Yayasan Syair, Yayasan Kasih Suwitno, OBS, Rumah Cemara, dll) berkomitmen dalam gerakan bersama pada kampanye #sayaberani. Untuk pertama kalinya di Indonesia, sebuah gerakan yang diprakarsai oleh gabungan berbagai organisasi masyarakat sipil dan komunitas, bersepakat pada satu tema untuk menggugah kesadaran bersama dalam memerangi penyebaran HIV/AIDS. Kampanye ini juga dilaksanakan dalam rangka "30 Tahun Program Pencegahan HIV di Indonesia", sebagai refleksi bersama dalam bentuk acara edutainment dan komitmen. Kegiatan ini didukung oleh UNAIDS Indonesia, Linkages Indonesia dan tentunya TestJKT.

Kegiatan Hari AIDS Sedunia dengan tema “Saya Berani, Saya Sehat!” dilaksanakan pada momentum Car Free Day hari Minggu, 03 Desember 2017. Acara dimulai pagi hari jam 05:30 WIB dengan aksi jalan sehat. Diikuti oleh panitia dan masyarakat dari berbagai kalangan yang semuanya menggunakan baju warna merah sebagai warna identifikasi lambang semangat dari kegiatan ini. Rombongan aksi jalan sehat dipimpin oleh Aruni dan Aruna, sepasang maskot dengan kostum adaptasi dari bentuk burung garuda. Kehadiran keduanya mampu menarik perhatian masyarakat disekitar area, terbukti dengan antusiasme permintaan masyarakat yang ingin ber-swafoto sepanjang perjalanan. Titik temu aksi jalan sehat dimulai dari Balai Kota menuju lokasi utama puncak acara di Jl. Imam Bonjol dan daerah sekitaran Bundaran HI- Jakarta Pusat.

Sesampainya di lokasi utama, banyak sekali acara menarik yang disuguhkan. Zumba Session berhasil membuka panggung dengan panduan 3 instruktur dan dentuman musik menggelegar. Masyarakat yang sudah ada di lokasi ataupun yang sekedar lewat mulai berdatangan satu-per-satu memadati area depan panggung sambil mengikuti gerakan senam penuh semangat. Acara musik beragam jenis, mulai dari musik populer sampai musik dangdut dibawakan apik oleh berbagai penyanyi. Alunannya berhasil membuat pengunjung asyik larut bergoyang. Tidak lupa secara rutin disisipkan aneka informasi yang berkaitan dengan isu HIV AIDS oleh para pemandu acara, tujuannya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.

Kehadiran dua bintang tamu yang memberikan testimoni di atas panggung bisa jadi salah satu hal menarik pada rangkaian acara hari itu. Para bintang tamu bercerita mengenai pengalaman hidup mereka sebagai Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Mereka memberikan informasi betapa pentingnya penggunaan kondom dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana mereka bisa tetap hidup sehat selayaknya manusia normal, membangun rumah tangga dalam pernikahan, bahkan proses perencanaan yang matang untuk nantinya bisa punya keturunan seperti keluarga pada umumnya. Pengunjung kembali diingatkan bahwa penularan HIV AIDS bukan disebabkan suatu kelompok tertentu tetapi bisa dari siapa saja tanpa terkecuali.

TestJKT menyajikan photo booth yang terletak di bagian depan area kegiatan untuk memfasilitasi pengunjung yang gemar narsis di media sosial. Letaknya strategis, mampu menarik perhatian banyak pengunjung dari berbagai kalangan. Keikutsertaan TestJKT dalam kegiatan ini diharapkan bisa memberikan manfaat untuk masyarakat luas khususnya komunitas lelaki muda dalam memberikan berbagai informasi dan edukasi terkait isu HIV/AIDS. Dengan tagline Fun Love Test Repeat, lelaki muda usia produktif disarankan untuk paham informasi mengenai kesehatan seksual serta mampu menjaga kesehatan seksual diri sendiri dan pasangannya.

Acara ini juga tentunya dilengkapi dengan fasilitas Voluntary Counseling Test (VCT) bagi pengunjung yang ingin mengetahui status HIV secara langsung di tempat. Tersedia pula tenda khusus donor darah yang pelaksanaannya bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia. Pengunjung dihimbau untuk melakukan test HIV atau donor darah secara sukarela tanpa ada paksaan. Kegiatan ini menarik karena terlihat adanya antrian cukup panjang, dimana artinya sudah mulai tercipta kesadaran untuk berani sehat dari para pengunjung.

Epidemik HIV di Indonesia termasuk dalam epidemik terkonsentrasi, dimana prevalensi HIV tinggi pada kelompok populasi kunci, yaitu pada wanita penjaja seks (WPS), lelaki berhubungan seks dengan lelaki (LSL), waria dan pengguna napza suntik (penasun). Diperkirakan pada tahun 2016 terdapat 622.435 ODHA di Indonesia, dan sampai sekarang dengan Juli 2017 telah dilaporkan penemuan kasus HIV sebanyak 255.527 orang (Data Kemenkes). Sebagian besar penularan HIV di Indonesia masih melalui kontak seksual, baik heteroseksual maupun homoseksual. Kelompok umur terbanyak tertular HIV adalah pada kelompok usia produktif dan reproduktif (20-39 tahun).

Indonesia berkomitmen agar dapat mengakhiri AIDS pada tahun 2030 dengan mencapai target 90-90-90. Hal tersebut memiliki makna: 90% orang yang hidup dengan HIV mengetahui status mereka, 90% orang dengan HIV tersebut mengakses pengobatan (Therapy Antiretroviral) dan 90% ODHA dalam pengobatan dapat menekan viral load. Semakin banyak masyarakat yang mengetahui status HIV dan mendapatkan pengobatan sejak dini maka hal ini dapat mendorong percepatan tercapainya penurunan epidemik HIV. Indonesia diharapkan dapat mencapai “3 Zero” yaitu: (1) tidak ada infeksi baru HIV, (2) tidak ada kematian akibat AIDS dan (3) tidak ada stigma dan diskriminasi. Namun untuk mencapai target tersebut salah satu tantangan terbesar adalah stigma terhadap tes HIV itu sendiri.

Kegiatan kali ini tidak hanya sekedar peringatan yang biasa-biasa saja, namun memiliki dampak yang konkrit, untuk jangka pendek dan jangka panjang kepada berbagai pihak, baik pekerja sosial, pihak pemangku kepentingan, dan masyarakat umum, khususnya remaja. Diharapkan adanya peran aktif masyarakat dalam pemahaman terhadap perlunya mengetahui status HIV lebih dini, sehingga tercipta pemikiran bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Salam peduli AIDS!