Jejak Langkah HIV dan AIDS di Indonesia

Pada 17 Agustus 2019, negara kita tercinta Indonesia genap berusia 74 tahun. Jika diibaratkan dengan umur manusia, bisa dikatakan negeri ini memasuki usia yang sangat matang. Lalu, bagaimana negara ini memperlakukan isu HIV dan AIDS di Tanah Air?

Berawal dari penemuan kasus AIDS pertama kali di tahun 1987, pada Juni 2018 tercatat ada sebanyak 301.959 orang dengan HIV (ODHIV). Adapun provinsi dengan jumlah infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta (55.099), diikuti Jawa Timur (43.399), Jawa Barat (31.293), Papua (30.699), dan Jawa Tengah (24.757).

And even though the numbers of HIV cases are increasing, the numbers of AIDS cases are quite stable! Ini menunjukkan keberhasilan bahwa banyak ODHIV di Indonesia masih stabil dalam fase terinfeksi (HIV positif) dan belum masuk dalam stadium AIDS. Bravo!

Pada tahun 1987, Kasus AIDS mendapat respon dari pemerintah setelah seorang pasien berkebangsaan Belanda, EGH, 44 tahun, meninggal di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, Bali, yang kemudian dilanjutkan dengan pelaporan kasus ke WHO sehingga Indonesia tercatat sebagai negara ke-13 di Asia yang melaporkan kasus AIDS.

Namun, pada Tahun 1983, dr. Zubairi Djoerban, staf Sub-Bagian Hematologi-Penyakit Dalam FK UI, meneliti kalangan homoseksual dan transpuan di Jakarta terkait leukemia. Dan dari hasil penelitian dr. Zubairi ada tiga transpuan di Jakarta yang menunjukkan gejala mirip AIDS. Tapi, karena ketika itu defenisi AIDS masih sumir, maka gejala lemas-lemas seperti yang dikeluhkan ketiga transpuan itu disebut sebagai AIDS related complex (ARC).

Periode Awal (1987-1996)

Berawal dari penemuan kasus AIDS pertama kali di Indonesia tahun 1987, dalam kurun waktu 10 tahun, jumlah kasus HIV positif mencapai 381 dan kasus AIDS mencapai 154, seperti yang dilansir dari situs kebijakanindonesia. Prosentase terbesar orang yang terinfeksi dengan HIV dan menderita AIDS, ditemukan pada kelompok usia produktif (15-49 tahun) yakni 82,9%. Kecenderungan cara penularan yang paling banyak adalah melalui hubungan seksual berisiko (95,7%).

Periode 1997-2006

Hingga 31 Desember 2006, jumlah kumulatif ODHIV dan penderita AIDS yang dilaporkan mencapai 13.424 kasus, yakni 5.230 kasus HIV dan 8.194 kasus AIDS. Selama 10 tahun, yaitu sejak tahun 1997-2006, jumlah kematian karena AIDS mencapai 1.871 orang. Dan dari jumlah kasus AIDS yang ada yaitu 8.194 kasus, lelaki penderita AIDS berjumlah 6.604 (82%), sedangkan perempuan berjumlah 1.529 (16%), dan 61 (2%) kasus tidak diketahui jenis kelaminnya.

Pelaporan kasus HIV dan AIDS pada tahun 1997 baru dilakukan oleh 22 provinsi, sedangkan pada tahun 2006 pelaporan kasus HIV dan AIDS sudah mencapai 33 propinsi. Our government is becoming more aware on this issue! Waktu itu Provinsi Papua menempati urutan pertama (51,45%) diikuti dengan DKI Jakarta (28,15%). For your information, saat ini DKI Jakarta menempati urutan pertama untuk orang yang terinfeksi dengan HIV.

Selanjutnya, pada tahun 1999, ada fenomena baru dalam penularan HIV dan AIDS, yaitu infeksi HIV dan AIDS pada pengguna napza suntik (penasun). Penularan ini sangat cepat terjadi karena penggunaan jarum suntik bersama.

Juga dalam periode ini, mulai marak munculnya kasus AIDS pada bayi atau anak yang berusia kurang dari 15 tahun. Anak-anak dengan HIV (ADHIV), kemungkinan tertular melalui ibunya saat kehamilan, persalinan ataupun saat pemberian ASI, transfusi darah/komponen darah (misalnya pada penderita hemofilia) atau akibat pemaksaan seksual. Selain itu, anak-anak juga mempunyai risiko besar terinfeksi karena pengetahuan mereka tentang cara penularan dan melindungi diri dari HIV sangat terbatas.

Pada tahun 2000, epidemi HIV meningkat secara nyata diantara pekerja seks komersial (PSK), di mana epidemi ini bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain.

Sampai akhir tahun 2005, jumlah kumulatif penularan HIV karena perilaku seksual berisiko pada PSK beserta langganannya ada sebanyak 1.920 kasus. Sedangkan pada akhir tahun 2006, penularan AIDS berjumlah 3.302 kasus.

Periode 2007-2013

Lebih dari dua dekade sejak kasus pertama HIV di Indonesia, 3.492 orang meninggal dunia, dan kebanyakan di antara mereka berusia produktif yakni kurang dari 30 tahun. Pada tahun 2009 diperkirakan jumlah ODHIV meningkat menjadi 333.200 orang, dan 25% diantaranya adalah perempuan. If you are a young man, please beware of this issue and get tested!

Kasus HIV dan AIDS meningkat cukup tajam di tahun 2009 ke tahun 2010, ini karena teknologi informasi yang semakin berkembang sehingga pencatatan dan pelaporan kasus HIV dan AIDS semakin baik pun kerjasama antara pemerintah dan masyarakat, sehingga sehingga populasi komunitas yang berisiko dapat dijangkau dan diketahui. Kemudian di tahun 2011 terjadi sedikit penurunan kasus HIV dan AIDS, disebabkan penderita yang sudah meninggal dunia dan efek dari diperkenalkan dan dijalankannya program CUP (Condom Use 100 Percent). Pada tahun 2013, kasus HIV sebanyak 29.037 dan kasus AIDS sebanyak 11.741 kasus.

Periode 2014-2018

Pada tahun 2014, jumlah kasus HIV sebanyak 32.711 dan kasus AIDS tahun sebanyak 7.963 kasus. Pada tahun 2015, kasus HIV sebanyak 30.935 dan kasus AIDS sebanyak 7.185. Kasus HIV pada 2016 tercatat sebanyak 41.250 dan kasus AIDS sebanyak 7.491 kasus. Kemudian hingga Juni 2017 ditemukan 23.204 kasus HIV dan 1.851 kasus AIDS.

Pada 2014, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat jumlah ODHIV di Tanah Air selama Januari-Desember 2014 mencapai 32.711 orang. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP&PL) Kemenkes Mohamad Subuh mengatakan, jumlah kasus HIV terus meningkat dari tahun ke tahun dan persentase faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada heteroseksual, yakni sebanyak 52 persen.

Selain penularan HIV di kalangan heteroseksual, 16 persen kasus ditemukan berasal dari kalangan homoseksual, sementara penularan lewat jarum suntik yang digunakan pengguna narkoba sebesar 7 persen. Persentase infeksi HIV tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 25-49 tahun sebanyak 71,9 persen, diikuti kelompok usia 20-24 tahun, yaitu 15 persen, dan kelompok umur 50 tahun ke atas sebesar 5,6 persen- again, young people should care about this issue!

But believe or not, dari banyaknya ODHIV di Indonesia, ibu rumah tangga menempati tempat teratas di mana jumlahnya mencapai 6.539 di tahun 2014. Jumlah ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV lebih tinggi dibandingkan jumlah sopir truk, pekerja seks komersial maupun sektor pekerja. Ini berarti penularan HIV dan AIDS saat ini tidak lagi terjadi di luar rumah, namun terjadi di dalam rumah.

Pada tahun 2017, ada 48.300 kasus HIV positif yang ditemukan pada tahun 2017. Dari jumlah tersebut, 9.280 di antaranya juga positif AIDS. Untuk tahun 2018, hingga triwulan II sudah ditemukan 21.336 kasus HIV, dengan 6.162 di antaranya positif AIDS. Sedangkan data kumulatif dari pertama kali dilaporkan pada tahun 1987 hingga Juni 2018, menyebut ada 301.959 kasus HIV, dengan 108.829 kasus AIDS. Dari segi usia, populasi pengidap HIV-AIDS paling banyak ditemukan pada kelompok umur 25-49 tahun, dan 20-24 tahun. Adapun provinsi dengan jumlah infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta (55.099), diikuti Jawa Timur (43.399), Jawa Barat (31.293), Papua (30.699), dan Jawa Tengah (24.757).

Periode Sekarang

Masuk pada tahun 2019 ada kabar menyedihkan. Ya, Indonesia diperkirakan gagal mencapai target penanggulangan HIV dan AIDS pada 2020, di mana kendala teknis dan stigma diduga menjadi penyebabnya, seperti yang dilansir dari situs voaindonesia. Padahal, waktu untuk mencapai target ini tinggal hitungan bulan.

Dalam catatan Kementerian Kesehatan per 2016, diperkirakan ada 640.443 orang Indonesia yang terkena HIV dan AIDS. Namun, dari angka tersebut, baru 338.363 orang atau 58,7 persen yang mengetahui status mereka, per Maret 2019. Orang-orang yang tidak mengetahui statusnya ini bisa menjadi bom waktu, karena mereka bisa menyebabkan epidemi HIV dan AIDS tanpa mereka sadari. Again, please get tested for HIV and ask your beloved to do the test as well!

Di level global, dunia sepakat untuk mencapai kaskade pengobatan HIV dan AIDS 90-90-90. Artinya, satu, 90 persen ODHIV tahu status; dua, 90 persen dari mereka menjalani antiretroviral therapy (ART) dan tiga, 90 persen dari mereka mencapai supresi viral load (VL) atau menekan jumlah virus dalam tubuh. Unfortunately, di Indonesia, hanya 58,7 persen ODHIV yang tahu status mereka. Sementara yang menjalani ART hanya 111.648 orang atau 33 persen per Desember 2018. Untuk yang mencapai supresi VL bahkan hanya 3,809 orang atau 0,6 persen per Desember 2017.

Untuk mengejar target 90-90-90, pemerintah Indonesia meluncurkan strategi STOP atau singkatan dari Suluh Temukan Obati Pertahankan; dan pemerintah juga bekerja sama degan LSM lokal untuk mendorong ODHIV melakukan terapi ARV.

Stigma dan Proses Berobat yang Tidak Praktis

Berdasarkan data Kemenkes, obat ARV dapat diakses di 896 layanan seluruh Indonesia. Layanan tersedia di RS dan Puskesmas di 34 provinsi, 227 kabupaten/kota. Namun, proses pengambilan obat sendiri bisa dikatakan tidak praktis. Seperti layanan di RS Hasan Sadikin, Bandung, misalnya yang setiap hari dipenuhi antrian ODHIV. Pengambilan obat bisa mencapai 4 jam lebih. Padahal banyak ODHIV yang bekerja dan terpaksa mengambil cuti karena proses yang memakan waktu. Hasilnya fatal, tidak sedikit ODHIV yang memutuskan berhenti berobat dan beralih kepada obat-obatan herbal yang lebih mudah diperoleh. Banyak juga ODHIV yang enggan muncul ke publik lantaran perilaku diskriminatif terhadap pengguna narkoba, pekerja seks, gay dan dan transgender. Padahal, mereka semua adalah populasi kunci pengendalian HIV. Dan sayangnya, untuk stigma dan diskriminasi, tidak ada UU untuk memberi sanksi kepada pelaku stigma dan diskriminasi.

Awal 2015, pemerintah merancang Intervensi Pengurangan Stigma dan Diskriminasi (IPSD) untuk tenaga kesehatan. Namun, masih banyak petugas kesehatan yang memiliki stigma dan kerap menghakimi ODHIV melalui ceramah moral. Tak pelak, pasien ODHIV pun malas untuk datang kembali!

Dalam waktu yang tinggal sedikit ini, diharapkan campur tangan pemerintah dalam skala yang lebih besar. Selain terus bersinergi dengan LSM dan aktivis peduli HIV dan AIDS. Dan, dalam laporan triwulan I 2019, Kemenkes mewajibkan seluruh faskes yang memiliki dokter mengimplementasikan test and treat; artinya, pasien langsung diberikan terapi ARV begitu diketahui positif HIV. We’ll see ya bagaimana aturan baru ini bisa membantu pencapaian goal 90-90-90. Would you like to help us too?

Beberapa tempat penyedia layanan test HIV di Jakarta bisa dilihat melalui myupdatestat.us/testJKT atau link di bio Instagram @testJKT. Ayo buat janji bertemu dokter secara online dan konsultasikan kesehatan seksualmu.

 

FUN. LOVE. TEST. REPEAT.