Melihat HIV sebagai epidemi

Jika tidak ditanggulangi dengan baik maka akan semakin banyak masyarakat yang terinfeksi. Seseorang yang terinfeksi HIV, tidak tahu status HIV-nya karena tidak mau memeriksakan diri atau sudah tahu status HIV-nya tapi tidak mau berobat padahal dia masih dalam kondisi seksual aktif, berapa orang yang akan ditularkan olehnya?

Misalkan simulasinya seperti ini: 1 orang HIV positif, tidak minum obat, virus dalam tubuhnya tinggi, kemungkinan menularkan ke pasangan juga semakin tinggi, enggan menggunakan pengaman (kondom). Dalam waktu sebulan saja, 1 orang ini berhubungan seks dengan 10 orang yang berbeda, 10 orang ini juga memiliki pasangan seksual lain yang entah berapa. Kira-kira ada berapa infeksi baru yang bersumber dari satu orang yang terinfeksi HIV setiap bulannya?

Itulah kenapa pemerintah dan banyak lembaga mitra saat ini sangat menekankan pemeriksaan HIV sedini mungkin, khususnya bagi populasi berisiko tinggi. Bagi mereka yang terinfeksi HIV sesegera mungkin menjalani pengobatan, agar angka infeksi baru dapat ditekan, angka kesakitan dan kematian akibat HIV juga dapat ditekan.

Saat ini sudah sangat mudah kita temukan layanan kesehatan HIV di sekitar kita, akses layanan obat ARV juga sudah tersebar hampir merata disetiap daerah, kelompok dukungan bagi komunitas juga sudah banyak. Tidak ada lagi alasan untuk tidak peduli dengan kesehatan diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Ketahuilah bahwa kondisi ini jauh lebih baik dari beberapa tahun lalu.

Dengan kondisi epidemi seperti ini yang harus digarisbawahi adalah jika kita berisiko untuk terinfeksi HIV maka periksalah, jika sudah tahu terinfeksi HIV berobatlah, jika sudah berobat patuhlah pada pengobatan. Hanya dengan cara ini HIV tidak meluas. Karena jika virus sudah tidak terdeteksi maka kemungkinan menularkan ke pasangan seksualnya sangat kecil bahkan NOL, namun penggunaan kondom tetap disarankan pada setiap kegiatan seksual berisiko.

FUN. LOVE. TEST. REPEAT.